Hadits-Hadits Dhaif Seputar Bulan Ramadhan

By Admin Arrohmah 27 Jun 2016, 10:03:19 WIBHadits
Hadits-Hadits Dhaif Seputar Bulan Ramadhan but memiliki kelezatan yang berbeda dari kelezatan suapan-suapan berikutnya. Kemudian para bidadari itu pun memiliki tujuh puluh ranjang terbuat dari permata berwarna merah, yang di atas setiap ranjang tersebut terdapat permadani yang bantalannya terbuat dari sutera . Dan di atas setiap permadani tersebut terdapat dipan-dipan. Demikianlah para suami mereka pun diberi hal yang sama. Mereka berada di atas ranjang yang terbuat dari permata merah yang dihiasi oleh mutiara, dan berpagarkan emas. Ini adalah balasan untuk satu harinya di bulan Ramadhan, belum termasuk pahala lainnya dari amal-amal baik yang ia kerjakan”.

Hadits ini maudhu’ (palsu)7

Syaikh Abu ‘Amr Abdullah Muhammad al-Hammadi berkata8:

“(Hadits ini) dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya [sebagaimana dalam al-Matholibul ‘Aliyah (1/396) (1032)], dan asy-Syasyi dalam Musnad-nya (2/277) (852), dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/160) (1886), dan al-Ashbahani dalam at-Targhib wat Tarhib (2/356) (1765), dan Ibnu Abid Dun-ya dalam Fadha-ilu Ramadhan (halaman 49) (22), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (3/313) (3634) dan dalam Fadha-ilul Awqat (halaman 158) (46), dan Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/547) (1119); dari jalan Jarir bin Ayyub, dari asy-Sya’bi, dari Nafi’ bin Burdah, dari Abdullah bin Mas’ud (atau dari Abu Mas’ud), ia berkata, Aku mendengar NabiShallallahu’alaihi Wasallam bersabda di permulaan bulan Ramadhan… kemudian menyebutkan haditsnya”.

Hadits ini terkadang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dan terkadang dari Abu Mas’ud al-Ghifari. Oleh karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya al-Matholibul ‘Aliyah (1/397) setelah beliau membawakan hadits ini, “Dan Ibnu Mas’ud bukanlah al-Hudzali yang masyhur, akan tetapi dia adalah al-Ghifari, (sahabat) yang lain”.

Dan yang menyebabkan hadits ini dihukumi palsu adalah karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Jarir, yaitu Jarir bin Ayyub bin Abi Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir al-Bajali al-Kufi. Seorang perawi hadits yang dihukumi oleh para ulama hadits; munkarul hadits (haditsnya munkar), atau dha’iful hadits (haditsnya lemah), atau bahkan pemalsu hadits9.

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at (2/549): “Hadits ini palsu (dipalsukan) atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan yang tertuduh memalsukannya adalah Jarir bin Ayyub”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah mengatakan dalam kitabnya al-Matholibul ‘Aliyah (1/397): “Jarir bin Ayyub menyendiri dalam (periwayatan) hadits ini, sedangkan dia sangat lemah sekali”.

Dan al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan pula dalam kitabnya al-Fawa-idul Majmu’ah (halaman 88):&